sumber gambar: http://go-livestock.blogspot.co.id/
Saya
terpaksa menulis, menulis dengan berbagai tekanan dari guru, orang tua, serta
tekanan dari diri saya sendiri. Sewaktu kecil ada tanda tanya besar yang selalu
bergelayut dalam pikiran saya, kenapa saya harus menulis? Untuk apa saya
menulis? Saya tidak pernah menolak ketika guru maupun orang tua saya menyuruh saya
menulis. Saya menulis bukan karena suka, bukan karena menulis ini menyenangkan.
Bagi seorang anak kecil seperti saya waktu itu menulis masih kalah pamornya
dibandingkan dengan main sepak bola. Menulis adalah kegiatan membosankan yang
saya ragu bisa tertawa karenanya. Saya masih percaya kalau membaca bisa membuat
saya tersenyum dengan gaya bahasa dan alur cerita yang menggelitik. Tetapi
tidak demikian halnya dengan menulis. Kebosanan akan melanda saya ketika
mencoba menulis, saya menulis dengan terpaksa dengan tekanan dari orang-orang
tua yang cerewet.Menulis
adalah perbuatan tidak berguna yang menyita waktu dan tenaga. Saya semakin
benci dengan menulis karena guru selalu memaksa saya untuk melakukannya.
Apalagi menulis dengan pena, menulis di buku catatan kucel yang saya bawa
setiap hari, menulis mengikuti kecepatan bicara guru-guru yang seperti anjing
gila dikejar ketera api. Saya muak dengan segala hal yang berbau menulis. Mencatat
pelajaran yang sudah ada di buku, mengerjakan tugas sekolah, membuat jadwal
pelajaran. Semua hal itu menulis, dan saya muak dengan berbagai omong kosong
tentang menulis.
Saya
terpaksa menulis, menulis dengan berbagai tekanan dari guru, orang tua, serta
tekanan dari diri saya sendiri. Sewaktu kecil ada tanda tanya besar yang selalu
bergelayut dalam pikiran saya, kenapa saya harus menulis? Untuk apa saya
menulis? Saya tidak pernah menolak ketika guru maupun orang tua saya menyuruh saya
menulis. Saya menulis bukan karena suka, bukan karena menulis ini menyenangkan.
Bagi seorang anak kecil seperti saya waktu itu menulis masih kalah pamornya
dibandingkan dengan main sepak bola. Menulis adalah kegiatan membosankan yang
saya ragu bisa tertawa karenanya. Saya masih percaya kalau membaca bisa membuat
saya tersenyum dengan gaya bahasa dan alur cerita yang menggelitik. Tetapi
tidak demikian halnya dengan menulis. Kebosanan akan melanda saya ketika
mencoba menulis, saya menulis dengan terpaksa dengan tekanan dari orang-orang
tua yang cerewet.Menulis
adalah perbuatan tidak berguna yang menyita waktu dan tenaga. Saya semakin
benci dengan menulis karena guru selalu memaksa saya untuk melakukannya.
Apalagi menulis dengan pena, menulis di buku catatan kucel yang saya bawa
setiap hari, menulis mengikuti kecepatan bicara guru-guru yang seperti anjing
gila dikejar ketera api. Saya muak dengan segala hal yang berbau menulis. Mencatat
pelajaran yang sudah ada di buku, mengerjakan tugas sekolah, membuat jadwal
pelajaran. Semua hal itu menulis, dan saya muak dengan berbagai omong kosong
tentang menulis.
Suatu
hari saya jatuh hati pada teman sekelas, sebut namanya Siti. Dia gadis dengan
senyum manis penuh pesona, saya beranikan diri untuk ungkap semua rasa ini.
Saya nyatakan bahwa saya menyukai senyumnya. Seperti dugaan awal cinta saya
bertepuk sebelah tangan. Tentu saja saya terluka, dan saya tidak tahu harus
pada siapa mengadukan segala gundah ini. Mungkin Tuhan masih mau mendengar
curhat alay saya. Tetapi saya malu jika harus curhat pada pencipta saya. Saya
pun menulis, menulis karena patah hati, menulis segala keresahan saya. Semua
hal yang membuat saya gelisah, tertuang pada kertas kosong, tisu toilet,
dokumen Ms. Word, serta media lainnya. Ternyata menulis tidak semembosankan
yang saya duga. Setelah membuat beberapa tulisan, saya mulai jatuh cinta pada
menulis.
Tentang Menulis (2)
Reviewed by Asep Nanang
on
April 27, 2016
Rating:
Reviewed by Asep Nanang
on
April 27, 2016
Rating:

No comments: