Review Novel: Sakit hati menyeretku ke Turki

sumber gambar: http://www.goodreads.com/

Judul buku: Istanbul
Penulis: Retni SB
Penerbit: Grasindo
Tahun Terbit: Agustus 2016 (Cetakan 1)
Jumlah halaman: 244 halaman
ISBN: 978-602-375-617-9

Istanbul adalah salah satu novel dari seri terbaru Penerbit Grasindo "A Love Story : City" yang mengangkat kisah cinta dari kota-kota cantik di dunia. Alhamdulillah saya dapat membaca buku ini berkat giveway yang diadakan di blog kak Rizky Mirgawati seorang blogger yang rajin mengadakan kuis buku gratis setiap minggunya. Dalam kuis ini ditanyakan tentang tempat pertama yang akan saya kunjungi jika pergi ke Istanbul. Saya pun menjawab dengan yakin, “Selat Bosporus” Hal ini karena keindahan yang ditawarkan oleh selat tersebut. Kalau pembaca penasaran dengan selat Bosporus, cari saja di mbah google atau langsung saja pegi ke Turki.
Bagi Hanis Istanbul bukan hanya tentang negara impian yang akan ia kunjungi pada momen spesial dengan seorang istimewa bernama Edhu, kekasih hatinya. Rencana bulan madu nan indah telah dirancang oleh Hanis dan Edhu, tinggal selangkah lagi impian mereka terwujud. Namun entah setan apa yang merasuk dalam diri Edhu sehingga tega merenggut mimpi manis seorang gadis manis bernama Hanis. Kegagalan Hanis dalam cinta ternyata tak menggagalkan niat Hanis pergi ke kota impiannnya, Istanbul. Dengan bermodalkan kenekatan dan sedikit uang tabungan yang dimiliki Hanis pun pergi bersama Unay sahabatnya dan Irsa adik perempuannya. Lalu apakah yang akan ditemukan Hanis di Istanbul?
Hanis sebenarnya merasa ragu untuk pergi ke Istanbul, ia takut kota itu menginagtkannya pada lukanya, Edhu, dan masa-masa terburuk dalam hidupnya. Keraguan Hanis untuk pergi ke Istanbul segera sirna setelah Unay sahabatnya memberikan keyakinan pada dirinya. Ditambah lagi Irsa adik perempuannya yang pemurung tampak antusias untuk pergi ke Istanbul. Hanis pun mengalah pada luka hatinya, yang penting Irsa senang begitu pikirnya.
Tepatlah keputusan Hanis berlibur ke Istanbul? Masihkah Istanbul menorehkan luka pada hatinya? Novel ini ibarat catatan perjalanan Hanis, Unay, dan Irsa. Tiga mojang Bandung yang berkelana negara orang lain selama beberapa hari. Setting Istanbul terasa sangat kental dalam cerita romance ini. Pembaca terus menerus diajak mengunjungi berbagai kawasan wisata menarik di Turki. Mulai dari Istana Topkapi, Masjid Biru, Jembatan Galata, Hagia Shopia, Selat Bosporus, serta naik balon udara di Coppadocia yang bikin baper. Dan yang paling berkesan adalah kunjungan ke Konya untuk nereguk tuah cinta di Museum Melvana. Dan Knya pun telah merubah hati Hanis yang terluka kembali berdebar. Apakah itu cinta? Cinta pada siapa? Mugkinkah pada seorang pemuda kece yang ia temukan di Istanbul?

Apa pun yang kau dengar dan katakan (tentang cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan." (hlm.136)
Novel ini termasuk dalam genre romance inspiratif, kisah Hanis yang melakukan perjalanan ke kota impian setelah dilukai oleh tunangannya yang membatalkan ikrar suci tepat sehari sebelum pernikahan berlangsung. Novel ini menuturkan secara sederhana bagaimana Hanis melewati hari-hari di Istanbul, menyembuhkan luka dan memulai hidup yang baru. Saya suka denga cara Mbak Retni menata kembali kehidupan cinta Hanis sejak dihancurkan Edhu dengan cara-cara yang terstuktur dan cukup logis. Ada beberapa hal yang ingin saya kritisi, hehe. Pertama, masih ada sejumlah typo. Misalnya di halaman 64 tertulis punya-apa, harusnya tidak punya apa-apa. Halaman 75 menojol seharusnya menonjol. Pada halaman 137 terdapat pengetikan “yang menurutnya yang menurutnya”, kalimat tersebut terasa janggal. Kedua, ada satu tokoh yang memiliki peran samar-samar, bahkan bisa dibilang perannya sangat tidak jelas. Saya tidak tahu apa maksud dari munculnya tokoh ini, apakah ketidakjelasan dari tokoh ini akan menjadi jalan dilanjutkannya cerita Novel Istanbul atau tidak, hanya Mbak Retni yang tahu. Ketiga, cara Irsa memanggil Unay yang notabene adalah teman dari kakaknya tidak dengan panggilan “teh” (panggilan untuk kakak perempuan) hal tersebut sangat jarang terjadi di kota Bandung. Panggilan “teh” wajib disematkan pada orang yang lebih tua atau dituakan. Keempat, tokoh Garu masih terasa fiktif, padahal Hanis selaku tokoh utama perempuan dalam novel ini terasa begitu nyata.

Review Novel: Sakit hati menyeretku ke Turki Review Novel: Sakit hati menyeretku ke Turki Reviewed by Asep Nanang on November 12, 2016 Rating: 5

1 comment:

  1. Bingung mau ngapain? mendingan main games online bareng aku?
    cuman DP 20rbu aja kamu bisa dapatkan puluhan juta rupiah lohh?
    kamu bisa dapatkan promo promo yang lagi Hitzz
    yuu buruan segera daftarkan diri kamu
    Hanya di dewalotto
    Link alternatif : dewalotto.club

    ReplyDelete

Powered by Blogger.