Secuil Asa untuk Keluarga Kecilku

    Sumber gambar: tabloidnova.com

Menikah pada usia muda sembari berkuliah merupakan tantangan bagiku dan suamiku. Terbayang dalam benakku betapa aku akan sangat repot mengurus rumah tangga kami sembari mengerjakan tugas-tugas kuliah yang diberikan dosen. Aku tak tahu apakah aku mampu untuk melakukan tugas sebagai seorang isteri dengan baik sembari menjalankan kewajiban sebagai seorang mahasiswi. Siapkah aku berlayar dalam biduk rumah tangga dengan suamiku? Ah entahlah, aku tak tahu. Namun, semua keraguan dan rasa takutku akan berbagai tantangan rumah tangga segera aku tepis dan aku pun menikah dengan pujaan hatiku. Betapa senang hati ini menjadi seorang pendamping hidup bagi laki-laki yang telah lama aku dambakan.

Setahun sudah pernikahanku telah berlangsung dan aku telah memasuki semester 4 perkuliahan. Pernikahanku belangsung dengan lancar, bahkan aku akan segera diberi amanah, aku tengah mengandung anak pertamaku. Alangkah bahagianya diriku. Bahkan ketika kuberitahu suamiku tentang kabar gembira ini, ia sangat antusias dan terlihat jelas kebahagiaan dalam matanya. Aku semakin bahagia melihat hal tersebut. Betapa tidak ini adalah momen pertamaku mengandung buah cinta kami. Ada banyak harapan bermunculan dalam benakku dan suamiku. “Kalau anakku laki-laki namanya si ‘Zaki’ ah biar keren” begitu pikirku. Lalu di malam lainnya aku berharap anakku menjadi seorang pemimpin yang tangguh, dan di malam-malam selanjutnya ada banyak mimpiku untuk anak dalam perutku ini. Kunikmati malam-malaku bersama mimpi-mimpi keluarga kecil bahagia. Tetapi rasa bahagiaku sedikit ternoda dengan bayang-bayang masa depan yang masih samar-samar. Sejak menikah dengan suamiku, aku masih hidup menumpang dengan orang tuaku dan hal itu sedikit mengganggu suamiku. Ia terlihat tidak nyaman dengan keadaan kami yang masih menumpang ini. Ia seperti merasa sungkan dan rikuh pada kedua orangtuaku. Aku mengerti dengan keadaan suamiku. Ingin rasanya kami tinggal terpisah dengan orangtuaku, namun hal itu akan sulit bagi kami. Kami membutuhkan biaya yang lumayan besar untuk persalinanku kelak, kami tidak mungkin menyewa rumah atau bahkan kost di tempat yang murah. Gaji suamiku yang bekerja sebagai tenaga honor di salahsatu dinas kabupaten belumlah cukup untuk membiayai keluarga kami. Hingga biaya kuliahku saja masih dibantu oleh orangtuaku.

Menghadapi masalah rumit dalam kehidupan rumah tangga bukanlah suatu hal yang mudah. Tanpa pengertian suami dan komunikasi yang baik antara aku dan suami tentu rumah tangga kami sudah berantakan. Dalam menghadapi masalah keuangan keluarga yang serba kekurangan ini aku hanya bisa memberi semangat dan doa-doa bagi suamiku. Pernah ada dalam pikiranku untuk bekerja paruh waktu untuk meringankan beban suamiku. Suamiku menentang keras kehendakku, ia khawatir jika aku bekerja akan berpengaruh buruk untuk kandunganku, aku pun menuruti suamiku. Demi meringankan beban suami aku menghemat anggaran belanja rumah tangga dan sebisa mungkin tidak membeli barang-barang yang tidak begitu penting. Tidak terasa detik-detik kelahiran anak pertama kami sudah begitu dekat, katanya seminggu lagi aku akan melahirkan. Rupanya si jabang bayi ini membawa rezeki bagi kami orang tuanya. Setelah kami mendapat kabar tentang prediksi kelahiran anak kami, ada telepon dari kantor suamiku. Rupanya ia akan segera dipromosikan, dan gajinya akan naik dua kali lipat dari gaji biasanya. Alhamdulillah, secuil harapan bersinar indah dalam keluarga kecil kami, terima kasih Ya Allah atas karunia-MU.

Secuil Asa untuk Keluarga Kecilku Secuil Asa untuk Keluarga Kecilku Reviewed by Asep Nanang on June 28, 2016 Rating: 5

1 comment:

  1. Bingung mau ngapain? mendingan main games online bareng aku?
    cuman DP 20rbu aja kamu bisa dapatkan puluhan juta rupiah lohh?
    kamu bisa dapatkan promo promo yang lagi Hitzz
    yuu buruan segera daftarkan diri kamu
    Hanya di dewalotto
    Link alternatif : dewalotto.club

    ReplyDelete

Powered by Blogger.