Review Novel: Kelahiran Sang Pemberontak

Judul buku: Sang Pemberontak
Penulis: Kahlil Gibran
Penerjemah: Putri Pandan Wangi
Penerbit: Eska Media
Tahun Terbit: 2008 (Cetakan I)
Jumlah halaman: 106 halaman
ISBN: 979-3908-04-1



“Kejahatan tidak akan hilang di muka bumi sebelum akal setiap lelaki menjadi raja dan hati setiap perempuan menjadi pendeta. Sang Amir mencengkeram petani miskin, sedang Sang Pendeta mengulurkan tangannya ke kantong petani. Para hakim memandang dengan muka cemberut pada anak-anak sawah. Pembesar-pembesar agama melengos dengan tersenyum”.

Novel Kahlil Gibran ini saya dapatkan dengan cara yang kurang baik. Eits,,, jangan salahsangka dulu ya. Saya gak nyuri kok. Novel Sang Pemberontak ini saya pinjam dari seorang teman sekelas sewaktu SMA. Saya meminjam novel ini pada tahun 2011, ketika kami duduk di kelas 3 SMA, saat sebelum kami lulus. Setelah saya baca novel tersebut, saya kepincut dengan tokoh Kahlil yang begitu kuat dalam menegakkan ideologinya. Lalu saya pun memiliki keinginan untuk memiliki novel ini dan berkata pada sang empunya novel “Mbak novel ini buat saya aja ya?” Si empunya buku diam aja tanpa menjawab, sepertinya ia gak rela buku bagus ini jatuh ke tangan orang seperti saya. “Anggap ini kenang-kenangan ya mbak, kan bentar lagi kita lulus”, aku meyakinkan. Setelah negosiasi kotorku yang membawa-bawa kata kelulusan sebagai senjata membegal buku dari pemiliknya akhirnya Mbak Siti Wahida (pemilik buku) nyerahin ntuh buku ke saya. Alhamdulillah. Dengan segala kerendahan hati, saya akan mencoba membuat reviewnya.

Sampul

Sampul yang sederhana dan elegan itulah gambaran yang bisa saya katakan. Antara judul dengan sampul buku terlihat ada semacam hubungan erat. Dengan sampul wajah bermata tajam menggambarkan bahwa tokoh yang menjadi lakon utama dalam novel ini memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Meski terlihat sederhana, sampul novel ini memberikan gambaran yang pas untuk isi novel karya Kahlil Gibran ini.

Resensi Novel

Kahlil adalah pemuda sebatang kara yang sejak kecil tumbuh besar disekitaran kuil tempat para pendeta beribadat. Semenjak ayah dan ibunya meninggal ia memang diasuh oleh para pendeta. Setelah Kahlil beranjak dewasa ia pun turut menjadi seorang pendeta yang mengabdikan dirinya sebagai hamba miskin yang tidak tergoda dengan gemerlap duniawi. Seseorang yang menjadi abdi kebajikan dan mengabaikan segala bentuk nafsu dunia. Sejatinya kehidupan seorang pendeta memang mengabdikan jiwa dan raganya demi kemaslahatan masyarakat banyak dan membela kepentingan si miskin daripada keinginan si kaya. Itulah yang ada dalam pikiran Kahlil. Namun apa yang Kahlil lihat di dalam kuil tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan bahkan jauh berbeda dengan apa yang ia baca dari kitab suci. Kahlil pun mulai gelisah dengan kehidupan yang ia jalani di dalam kuil. Ia merasa bahwa para pendeta yang telah membimbingnya ke jalan Tuhan, sama sekali tidak peduli dengan kemaslahatan masyarakat. Seringkali Kahlil berselisih paham dengan pendeta lain. Hal inilah yang membuat Kahlil terusir dari kuil tempat ia dibesarkan. Setelah Kahlil terusir dari kuil ia menemukan cintanya di pondok Mbok Ragil. Ia menemukan diri sejatinya di pondok sederhana yang dihuni Mbok Ragil dan anak perempuannya. Dengan segenap cinta kasih dan harapan untuk menggulingkan koalisi jahat antara ulama dan umaro yang ada dalam masyarakat sebuah dusun di Lebanon Utara, Kahlil memulai pemberontakannya. Kahlil yang dibesarkan bersama para pendeta kini telah menunjukkan jati dirinya sebagai seorang yang bebas. Kebebasan Kahlil ternyata dibayang-bayangi oleh ketakutan ulama dan umaro yang merasa takut dengan kecerdasan dan perhatian Kahlil pada masyarakat kecil. Bagaimana nasib Kahlil yang melakukan pemberontakan pada pendeta yang telah membesarkannya. Ikuti kisahnya dalam “Sang Pemberontak”

Ukuran novel yang kecil menjadi keunikan dan menjadi daya tarik dari novel ini, terutama bagi kaum muda yang menginginkan bacaan praktis yang bisa dibaca dimana pun. Ukuran yang mini membuat novel ini sangat mudah dibawa. Tetapi dengan ukurannya yang kecil huruf-huruf yang tercetak pun berukuran kecil. Hal ini membuat novel ini sedikit sulit dibaca. Perlu diketahui juga bahwa novel ini termasuk novel lama yang kemungkinan sudah tidak dicetak lagi. Kesempatan terbaik untuk menemukan novel ini adalah berburu buku di toko loak atau di toko buku bekas. Selain itu, bisa saja pinjam ke teman atau kenalan yang suka novel-novel Kahlil Gibran.


Review Novel: Kelahiran Sang Pemberontak Review Novel: Kelahiran Sang Pemberontak Reviewed by Asep Nanang on June 11, 2016 Rating: 5

1 comment:

  1. Bingung mau ngapain? mendingan main games online bareng aku?
    cuman DP 20rbu aja kamu bisa dapatkan puluhan juta rupiah lohh?
    kamu bisa dapatkan promo promo yang lagi Hitzz
    yuu buruan segera daftarkan diri kamu
    Hanya di dewalotto
    Link alternatif : dewalotto.club

    ReplyDelete

Powered by Blogger.