Review Novel: Kisah Cinta Pemburu Nira Kelapa




Judul buku: Sejak Awal Kami Tahu, Ini Tidak Akan Pernah Mudah
Penulis: Sisimaya
Penerbit: Diva Press
Jumlah halaman: 268
ISBN: 978-602-391-080-9

Agus seorang intektual muda yang bekerja sebagai seorang auditor perusahaan besar di Jakarta mengalami dilema. Betapa tidak saat karirnya sebagai auditor di sebuah perusahaan swasta sedang menanjak, ia dihadapkan pada permintaan Mas Bayu, kakak angkatnya yang telah banyak berjasa dalam hidupnya. Mas Bayu memintanya untuk berhenti bekerja sebagai auditor. Ia ingin Agus membantunya membuat pabrik gula impian untuk Desa Manggar Wangi. Enggan rasanya meninggalkan puncak gunung yang sudah diraih dengan berjuang mati-matian. Dengan susah payah Agus mencapai posisinya saat ini. Lebih dari itu Agus telah memiliki Anggi sebagai seseorang yang akan ia jadikan isteri masa depannya. Namun, Agus merasa tak enak jika harus menolak keinginan sang kakak angkat. Hutang budi membuatnya sulit untuk menolak permintaannya. Bagaimana sikap Agus menghadapi dilema dalam hidupnya ini? Akankah ia menerima ajakan kakak angkatnya?

Saya mendapatkan novel karya Sisimaya ini dari sebuah blogtour yang diadakan oleh Penerbit Diva Press. Kakak Nur Anisa Rahmah selaku blogger di blog resensibukunisa.blogspot.co.id telah memutuskan saya sebagai pemenang kuis dengan pertanyaan yang menyangkut dengan peristiwa dilema yang pernah saya alami. Awalnya saya tak menyangka bisa menang, karena jawaban dari peserta lain juga bagus-bagus. Emang udah rezeki kali ya, Kak Nisa menyatakan saya sebagai pemenang dari blogtour di blog yang ia kelola. Alhamdulillah. Sebagai tanda terimakasih saya pada Kak Nisa, Sisimaya sang penulis buku, serta Penerbit Diva Press yang telah mengirim buku ke alamat saya. Saya akan membuat review dari novel kece ini.
Sampul Buku
Sampul novel yang terkesan manis dan menye-menye memang tidak terlalu menggambarkan isi dari novel yang notabene menceritakan perjuangan keras Agus dan Bayu yang menantang arus kehidupan, meningggalkan pekerjaan nyaman di kota besar untuk membuat pabrik gula cair yang kelak akan menyelamatkan perekonomian para penderes kelapa. Sampul yang manis memberi kesan novel ini bercerita tentang kisah cinta yang mengharubiru dan kental dengan aroma percintaan yang romantis. Benar kata pepatah, “Jangan menilai buku dari sampulnya”. Sampul memang tidak selalu bisa menggambarkan isi buku, meskipun demikian sampul buku “Sejak Awal Kami Tahu, Ini Tidak Akan Pernah Mudah cukup manis dilihat.
Yang Menarik dari Novel Ini
Ada perbedaan yang mencolok antara ibuku dan gula jawa soal rentang waktu aku mengenal keduanya. Sembilan bulan sembilan menit. Hanya sesingkat itu aku mengenal Ibu yang kata Bapak memiliki senyuman semanis gula jawa. Aku tak pernah bisa membuktikan kebenaran perkataan Bapak karena aku tak pernah punya kesempatan membandingkan rupa ibuku dan gula jawa. Aku sama sekali tak punya memori tentang Ibu, seperti aku memiliki tumpukan memori tentang gula jawa.
Kutipan di atas diambil dari prolog buku ini. Bagian awal dari sebuah novel merupakan bagian yang teramat penting, karena seorang pembaca akan memutuskan meneruskan membaca atau berhenti setelah membaca halaman awal. Sisimya mampu membuat saya terkesima dengan kenangan Agus bersama ibunya yang disandingkan bersama ingatannya bersama gula jawa. Gaya bercerita yang disajikan Sisimaya pada halaman awal membuat saya terperangah oleh keindahan kata-kata yang tidak hanya indah tapi sarat dengan makna. Perhatikan kata-kata ini:
“Percayalah, manisnya gula jawa tidak selalu bisa memaniskan hidup pembuatnya”
Dari kalimat di atas terlihat jelas bahwa novel ini ditulis dengan diksi yang indah tetapi tidak neko-neko. Setiap kata pada kalimat-kalimat dalam prolog novel ini memiliki tujuan tertentu yang mampu mengubek-ngubek hati pembacanya. Kagum, terharu, sedih, dan iri,,,,, ya saya iri dengan kemmapuan Sisimaya dalam memilih diksi.
Setelah bagian pembuka, yang menarik dari novel ini adalah amanat perjuangan anak muda tersaji dengan apik dalam keseluruhan cerita. Novel ini bisa menjadi inspirasi bagi anak muda yang sedang meniti karir atau berjuang demi kemaslahatan orang banyak. Tokoh protagonis dalam novel ini dapat menjadi teladan yang baik. Semangat pantang menyerah, keyakinan pada jalan yang dipilih serta ketabahan dalam menghadapi masalah adalah nilai-nilai yang tergambar jelas dalam novel.
Yang Membuat Tidak Nyaman
Novel Sejak Awal Kami Tahu, Ini Tidak Akan Pernah Mudah memang bacaan yang menarik dan penuh dengan idealisme dan semangat juang khas anak muda. Penggunaa diksi yang indah dan enak dibaca menjadikan novel ini sebagai bacaan yang lezat. Namun, ada beberapa hal yang membuat saya tidak nyaman ketika membaca yaitu:
  1. Terdapat pengulangan cerita pada beberapa bagian novel, pengulangan ini terkesan tidak berdampak apa-apa. Bahkan cenderung membuat cerita beralur maju ini sedikit berputar-putar tidak karuan. Tetapi itu hanya terdapat di beberapa bagian saja kok.
  2. Terdapat kesalahan yang cukup membahayakan, yaitu ketika Ratma membuat minuman kreasi yang dibuat dari campuran air soda, perasan jeruk nipis, dan gulajawa cair. Ratna berkata, ,"Nah, kalau begini kan kita bisa mematahkan anggapan bahwa makanan atau minuman yang sehat itu rasanya tidak enak."  Padahal menurut artikel kesehatan, minuman bersoda bukanlah minuman yang sehat.
  3. Pada saat menceritakan pembuatan pabrik ada beberapa bagian yang berbau hal-hal kimiawi. Walau menjadi penjelasan yang logis dan faktual, masuknya hal-hal berbau kimiawi sempat membuat saya mengerutkan kening karena kurang begitu mengerti. Alangkah lebih baik jika narasi tentang hal berbau kimiawi ditulis dengan bahasa yang lebih mudah dipahami. Atau memang otak saya yang terlalu oon ya. Hehe…
Kesimpulannya Novel ini sangat layak untuk dibaca, dikoleksi, dan dipinjamkan pada yang membutuhkan bacaan dengan spirit perjuangan. Novel ini akan membawamu pada kisah perjuangan yang sangat realistis dan manis. Seperti kata Tuhanmu, Tuhanku, dan Tuhan kita. Bacalah…..





Review Novel: Kisah Cinta Pemburu Nira Kelapa Review Novel: Kisah Cinta Pemburu Nira Kelapa Reviewed by Asep Nanang on April 28, 2016 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.